Selamatkan Keluargamu

 

 
 

   

 

   

      
      Hudzaifah.org
- Dalam kurun waktu setahun belakangan ini kita selalu disuguhi oleh
berita kekerasan, lebih spesifiknya lagi kekerasan yang dilakukan di
lingkungan pendidikan.

Masih jelas dalam ingatan kita bagaimana siswa sebuah perguruan tinggi
tewas dikeroyok oleh senior-seniornya hingga pupuslah harapan orang tua
dari mahasiswa tersebut. Kemudian ada kejadian yang lebih miris lagi,
bocah SD bersama dua orang teman sekolahnya memukul teman sekelasnya
sendiri juga sampai tewas. Dan terakhir yang tengah marak adalah
munculnya kelompok-kelompok gangster di lingkungan sekolah, yang
sebenarnya keberadaan kelompok-kelompok itu bukanlah baru tapi memang
sudah lama ada. Dimana kelompok tersebut melakukan aktivitas yang
bergaya bandit jalanan yang sempat marak di tahun-tahun 70-80an.

Reaksi masyarakat pun hampir semuanya sama, menolak dengan keras dan
mendukung untuk segera di tindak tegas hal-hal seperti diatas. Tetapi
selain mendukung sikap para pihak terkait untuk bersikap tegas terhadap
para oknum-oknum pelaku, masyarakat khususnya yang diwakili oleh orang
tua juga menjadi khawatir kalau-kalau anak mereka menjadi korban budaya
kekerasan di lingkungan tempatnya menimba ilmu.

Sebuah dilema yang wajar bagi para orang tua, mereka menghendaki
anak-anak mereka mengenyam pendidikan yang terbaik, yang dapat
menunjang masa depan sang buah hati, tetapi jauh panggang daripada api.
Apa yang mereka harapkan kini menyimpan sebuah kegelisahan di dalam
hati. Bagaimana tidak sebuah tempat pendidikan yang dianggap baik
justru tak seperti itu realitanya.

Lihatlah tempat terjadinya peristiwa kekerasan di atas, hampir
seluruhnya adalah tempat mengenyam pendidikan yang secara mutu di mata
masyarakat mendapat predikat baik dan bahkan ada yang dianggap istimewa
di mata masyrakat. Hampir yang hendak belajar di sana haruslah memiliki
uang yang tidak sedikit jumlahnya.
Sehingga ada sebuah pertanyaan besar di setiap benak orang tua kini,
“hendak di sekolahkan di mana anak saya nantinya?” Sungguh pertanyaan
ini kalau kita tidak di dalami, maka kita akan mengalami kebimbangan
yang sama seperti apa yang dirasakan oleh hampir sebagian orang tua
itu. Tetapi kalau kita mau berpikir mendalam maka kita dapat mengambil
hikmah dari kekerasan yang terjadi tersebut.

Sudah sepatutnya kita memahami bahwa pendidikan terbaik itu bermula
dari lingkungan keluarga. Bisa jadi para pelaku melakukan tindakan
kekerasan terhadap teman sekolahnya dikarenakan tidak ada perhatian
dari orang tuanya. Karena memang sebagian orang tua kini menyerahkan
urusan darah daging mereka justru kepada orang lain lebih umumnya pada
pembantu rumah tangga, mereka tidak mengikuti perkembangan yang terjadi
pada diri anaknya, jangankan perkembangan jiwa sang anak untuk
perkembangan fisik ataupun biologis saja hampir sebagian orang tua
tidak mengetahui atau tidak mau tahu.

Contoh kasus kecil adalah bisa disurvei pada orang tua, berapa diantara
mereka yang mengetahui bahwa anaknya telah mengalami mimpi basah atau
yang wanita memperoleh menstruasi untuk kali pertamanya. Padahal zaman
dahulu kala ketika Imam Syafi’I mengetahui anaknya mengalami mimpi
basah maka keesokan harinya sang anak langsung diminta untuk menikah.
Itulah orang tua yang benar, selain mengikuti perkembangan diri sang
anak juga memberikan arahan yang jelas bagi sang anak.

Perasaan ingin menjadi perhatian adalah hal yang lumrah ada pada diri
tiap orang yang memang luput dari perhatian dan kasih sayang orang yang
dicintainya. Dan sudah menjadi kewajiban bagi orang yang dicintai untuk
memberikan perhatian dan kasih sayang bagi sang belahan jiwa.

Kini kunci untuk menjawab permasalahan diatas berpulang pada kita
semua, maukah kita memperbaiki kondisi orang-orang yang kita cintai.
Walaupun bahasan di atas lebih banyak ditujukan pada orang tua tetapi
tidak menutup kemungkinan bagi yang belum menjadi orang tua turut ambil
bagian. Semisal bagi yang mempunyai adik mulai mengarahkannya pada
hal-hal yang bersifat positif.

Bagi yang sudah berkeluarga tetapi belum mempunyai anak bisa
menrnjadikan hal diatas sebagai pembelajaran. Bagi yang sudah punya
anak tentunya mulai dari sekarang harus membuat rencana pendidikan yang
baik di internal keluarganya, ajak diskusi si buah hati kalau dia
memang sudah bisa diajak berpikir arahkan dia pada hal-hal yang membuat
dirinya selalu merasa menolak ketika ajakan berbuat begatif datang
menghampiri.

Apa yang terjadi disekitar kita sesungguhnya kita juga mungkin turut
andil. Bisa jadi karena terlalu sibuk pada hal-hal yang jauh dan besar
justru sampai mengeyampingkan hal yang dekat dan kecil dalam kehidupan
kita. Ingat para pemuda adalah calon pemimpin di masa depan, maka jika
mereka rusak kita turut bertanggung jawab untuk membenarkannya.

Semoga kekerasan yang terjadi membuat kita tersadarkan diri untuk
kembali ke keluarga kita yang mungkin sempat kita lalaikan selama ini,
dan juga semoga hal ini menjadikan kita tambah bersemangat dalam
berdakwah karena sesungguhnya kewajiban yang diembankan lebih banyak
dibandingkan waktu yang tersedia. [didit]

Wallahu’allam bishawab.

2 Responses to “Selamatkan Keluargamu”

  1. ram Says:

    Assalamu’alaikum..Wr. wb…
    trus berjuang akhi…. demi kehidupan umat muslim di dunia… semoga Allah SWT menjadikan kita selalu dalam keridhoan-Nya…Amin…
    Wasalam..
    By :
    Ram..Carita Beach

  2. hareets Says:

    assalamu’alaikum…
    ku tau…. dalam lubuk hatimu yang terdalam kau slalu ingin mndapat jannah-Nya. jangan hentikan langkahmu…. teruslah bersama anganmu…. Allah mencintaimu dan takkan pernah berpaling darimu…..

Leave a Reply